MAKASSAR, (TRIBUNEKOMPAS)
By: Leo. S.
- Kasus peluru nyasar kembali terjadi pada Kamis, 20 Juni 2013. Kali ini korbannya adalah kaca depan mobil milik Herman Tjowarno, 71 tahun. Pelor menyambar kaca waktu mobil diparkir di garasi rumah empunya, Jalan Lembu, Kecamatan Maricaya, Kecamatan Makassar. "Pada saat mau mengelap mobil, saya kaget kenapa kacanya retak," kata Herman, Kamis, 20 Juni 2013.
Herman menduga pelor kesasar itu ditembakkan pada dinihari ketika ia tengah terlelap. Sebab, saat bangun tidur, Herman tidak mendengar suara letusan atau gemuruh di atas atap. Berdasarkan pantauan Tribunekompas, atap seng pada garasi rumah Herman bolong akibat tembusan peluru. Sedangkan kaca depan sudut kiri Kia Visto hitam berpelat nomor DP-1115-AA retak.
"Peluru menembus atap, mengenai kaca depan mobil, dan terpantul ke pipa corong air hujan yang tertempel di tembok," kata Herman. "Pelurunya saya temukan di got. Panjangnya sekitar 1 sentimeter dan sudah gepeng."
Peluru nyasar itu telah Herman serahkan ke kantor Kepolisian Sektor Kerung-kerung. Adapun juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Endi Sutendi, menyatakan bahwa polisi masih menyelidiki dan memeriksa peluru itu. Dia sendiri tak ingin berspekulasi tentang asal peluru dan jenisnya.
Kasus peluru nyasar sudah tiga kali terjadi di Makassar. Sebelumnya, Muhammad Fathir, bayi 18 bulan juga diterjang peluru nyasar di kediamannya, di Jalan Baji Gau Raya, Makassar. Meski sempat dirawat dan menjalani operasi pengangkatan proyektil dari bagian kepala di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Fathir akhirnya meninggal dunia.
Korban peluru nyasar lainnya adalah Mirawati, 41 tahun. Warga Jalan Gunung Latimojong, Makassar, itu menderita luka tembak pada bagian bahu kanan ketika berjualan nasi kuning di rumahnya. Ironisnya, peluru yang mengenai dua korban itu memiliki kesamaan ciri: kaliber 30 milimeter dan berbahan full metal jacket.
By: Leo. S.
- Kasus peluru nyasar kembali terjadi pada Kamis, 20 Juni 2013. Kali ini korbannya adalah kaca depan mobil milik Herman Tjowarno, 71 tahun. Pelor menyambar kaca waktu mobil diparkir di garasi rumah empunya, Jalan Lembu, Kecamatan Maricaya, Kecamatan Makassar. "Pada saat mau mengelap mobil, saya kaget kenapa kacanya retak," kata Herman, Kamis, 20 Juni 2013.
Herman menduga pelor kesasar itu ditembakkan pada dinihari ketika ia tengah terlelap. Sebab, saat bangun tidur, Herman tidak mendengar suara letusan atau gemuruh di atas atap. Berdasarkan pantauan Tribunekompas, atap seng pada garasi rumah Herman bolong akibat tembusan peluru. Sedangkan kaca depan sudut kiri Kia Visto hitam berpelat nomor DP-1115-AA retak.
"Peluru menembus atap, mengenai kaca depan mobil, dan terpantul ke pipa corong air hujan yang tertempel di tembok," kata Herman. "Pelurunya saya temukan di got. Panjangnya sekitar 1 sentimeter dan sudah gepeng."
Peluru nyasar itu telah Herman serahkan ke kantor Kepolisian Sektor Kerung-kerung. Adapun juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Endi Sutendi, menyatakan bahwa polisi masih menyelidiki dan memeriksa peluru itu. Dia sendiri tak ingin berspekulasi tentang asal peluru dan jenisnya.
Kasus peluru nyasar sudah tiga kali terjadi di Makassar. Sebelumnya, Muhammad Fathir, bayi 18 bulan juga diterjang peluru nyasar di kediamannya, di Jalan Baji Gau Raya, Makassar. Meski sempat dirawat dan menjalani operasi pengangkatan proyektil dari bagian kepala di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Fathir akhirnya meninggal dunia.
Korban peluru nyasar lainnya adalah Mirawati, 41 tahun. Warga Jalan Gunung Latimojong, Makassar, itu menderita luka tembak pada bagian bahu kanan ketika berjualan nasi kuning di rumahnya. Ironisnya, peluru yang mengenai dua korban itu memiliki kesamaan ciri: kaliber 30 milimeter dan berbahan full metal jacket.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar