JAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS)
By: Anto.
- Kepala Lembaga Pemasyarakat (LP) Salemba, Jakarta Pusat, Yusfachrudin, membantah terjadi bentrokan antar narapidana di dalam lapas tersebut, hari ini, Ahad 17 Februari 2013. Setiap gerak-gerik narapidana, kata dia, selalu diawasi kamera pengintai yang dipasang di sudut-sudut LP.
"Tidak ada laporan bentrokan. Kalaupun ada bentrokan bisa terlihat melalui CCTV yang saya pantau," kata Yusfachrudin saat dihubungi, Ahad 17 Februari 2013.
Yusfachrudin mengklaim para petugas berusaha memberikan perhatian dan hak yang sama kepada seluruh penghuni LP. Para petugas, kata dia, tidak diperkenankan menganak-emaskan seorang atau sekelompok penghuni. "Tidak ada perbedaan perlakuan kepada seluruh penghuni," kata dia.
Perlakuan berbeda, kata Yusfachrudin, hanya diberikan kepada narapidana yang sakit dan berusia lanjut. Mereka ditempatkan di sel tahanan yang terpisah dengan penghuni lainnya.
Yusfachrudin juga membantah adanya pungutan liar di dalam LP. Menurut dia, hal itu justru akan merugikan petugas sendiri karena umumnya penghuni tidak suka dengan pungli. "Prinsipnya kami penuhi apa yang menjadi hak mereka, seperti hak untuk dikunjungi, remisi, dan sebagainya," tutur dia.
Menurut Yusfachrudin, dari sisi petugas keamanan memang ada kekurangan. Lapas yang memiliki kapasitas 570 orang dan dihuni oleh 1.500 orang ini hanya dijaga oleh 24 petugas. "Dari jumlah pasti kurang, tapi kami berupaya agar kehidupan LP tertib."
Sebelumnya, diberitakan bentrokan terjadi di Lapas Salemba, Jakarta Pusat, tadi siang pukul 11.00. Puluhan narapidana dari Blok E menyerbu penghuni di Blok Q, tempat narapidana narkoba, hingga ke ruang registrasi petugas. Bentrokan ini diduga dipicu oleh perlakuan petugas Lapas yang mengistimewakan penghuni Blok Q. Pada 21 Januari lalu, penghuni Lp Salemba juga saling serang.
By: Anto.
- Kepala Lembaga Pemasyarakat (LP) Salemba, Jakarta Pusat, Yusfachrudin, membantah terjadi bentrokan antar narapidana di dalam lapas tersebut, hari ini, Ahad 17 Februari 2013. Setiap gerak-gerik narapidana, kata dia, selalu diawasi kamera pengintai yang dipasang di sudut-sudut LP.
"Tidak ada laporan bentrokan. Kalaupun ada bentrokan bisa terlihat melalui CCTV yang saya pantau," kata Yusfachrudin saat dihubungi, Ahad 17 Februari 2013.
Yusfachrudin mengklaim para petugas berusaha memberikan perhatian dan hak yang sama kepada seluruh penghuni LP. Para petugas, kata dia, tidak diperkenankan menganak-emaskan seorang atau sekelompok penghuni. "Tidak ada perbedaan perlakuan kepada seluruh penghuni," kata dia.
Perlakuan berbeda, kata Yusfachrudin, hanya diberikan kepada narapidana yang sakit dan berusia lanjut. Mereka ditempatkan di sel tahanan yang terpisah dengan penghuni lainnya.
Yusfachrudin juga membantah adanya pungutan liar di dalam LP. Menurut dia, hal itu justru akan merugikan petugas sendiri karena umumnya penghuni tidak suka dengan pungli. "Prinsipnya kami penuhi apa yang menjadi hak mereka, seperti hak untuk dikunjungi, remisi, dan sebagainya," tutur dia.
Menurut Yusfachrudin, dari sisi petugas keamanan memang ada kekurangan. Lapas yang memiliki kapasitas 570 orang dan dihuni oleh 1.500 orang ini hanya dijaga oleh 24 petugas. "Dari jumlah pasti kurang, tapi kami berupaya agar kehidupan LP tertib."
Sebelumnya, diberitakan bentrokan terjadi di Lapas Salemba, Jakarta Pusat, tadi siang pukul 11.00. Puluhan narapidana dari Blok E menyerbu penghuni di Blok Q, tempat narapidana narkoba, hingga ke ruang registrasi petugas. Bentrokan ini diduga dipicu oleh perlakuan petugas Lapas yang mengistimewakan penghuni Blok Q. Pada 21 Januari lalu, penghuni Lp Salemba juga saling serang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar