JAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS)
By: Bayu.
- Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menginstruksikan proyek Pertamina Geothermal Energy di Sungai Penuh, Jambi, dievaluasi menyusul longsor. Juru Bicara Pertamina, Ali Mundakir, menyampaikan, instruksi Karen itu setelah meninjau langsung proyek yang menewaskan lima orang itu.
"Setelah tinjau lokasi longsor di WKP Sungai Penuh, Dirut Pertamina Karen Agustiawan, instruksikan jajaran Pertamina Geothermal Energy untuk mengevaluasi semua operasi pemboran panas bumi terkait cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana alam dan mengganggu keselamatan kerja," kata Ali Mundakir kepada Tribunekompas, Senin 28 Januari 2013.
Longsor di Cluster B proyek pembangunan listrik energi panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) terjadi saat para pekerja menikmati sajian makan malam. Hujan lebat mengguyur lokasi Sabtu 26 Januari 2013 sejak pukul 15.00 WIB. Tiba-tiba pukul 19.30 WIB terdengar suara gemuruh tanah longsor.
Tahu akan terjadi longsor, seluruh pekerja yang berada di lokasi panik. Banyak pekerja berlarian untuk menyelamatkan diri. Bahkan ada pekerja yang tetap berada di dalam container yang dijadikan tempat penginapan pekerja.
Namun, sembilan pekerja lainnya tertimbun tanah dan terjepit kontainer. Lima pekerja meninggal dunia dan empat orang selamat dengan kondisi terluka parah, satu orang korban terpaksa diamputasi.
Kapolres Kerinci AKBP Ismail SH ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian longsor di Desa Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, tepatnya di lokasi titik Cluster B, dalam lokasi pembangkit listrik PT PGE. ”Ya, lima korban meninggal sudah berhasil dievakuasi. Di antaranya Ahmad Saiku (40), bekerja sebagai asisten diller dan rekannya Yanto (33), driver ambulan PT Rizki. Kemudian terakhir jenazah Miswanto ditemukan di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB siang tadi,” ujarnya.
Labil Akibat Pengeboran?
Menurut Ismail, penyebab longsor untuk sementara dikarenakan faktor alam. Bisa juga kondisi tanah longsor, labil karena pengeboran sehingga lokasi menjadi rawan longsor. Akibat tanah ambruk, puluhan kontainer bergeser dari posisi awal.
”Tanah tebing yang ada di kamp pekerja ambruk karena diguyur hujan deras, dan menimbun peti kemas yang dijadikan tempat mereka tidur,” katanya.
Ia mengaku evakuasi korban dilakukan sejak Sabtu malam dengan 100 personel dari Polres Kerinci, dibantu Kodim 0417 Kerinci, BNPB, Basarnas Jambi dan PMI. “Pencarian sempat kami hentikan pada pukul 04.30 WIB, kemudian kita lanjutkan pada siang hari,” katanya.
Sementara, humas PT Pertamina Geothermal Energi, Riki, mengatakan lima jenazah korban longsor di lokasi pembangkit listrik energi panas bumi PT PGE akan diantar ke rumahnya masing-masing. Tiga korban berasal dari Jawa Timur, satu lagi berasal dari Palembang dan satu korban lagi diketahui berasal dari Sumatera Barat. ”Perusahaan bertanggungjawab untuk mengantar jenazah mereka ke keluarga,” ujarnya.
Untuk informasi, lima korban yang ditemukan meninggal tersebut, adalah Yanto (33) karyawan PT RPN, Ahmad Saiku (40) karyawan PT Harko, Triono (56), karyawan PT Pra, dan M Nasoka, yang merupakan karyawan PT ADS kemudian Miswanto, korban terakhir belum diketahui dari PT mana.
By: Bayu.
- Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menginstruksikan proyek Pertamina Geothermal Energy di Sungai Penuh, Jambi, dievaluasi menyusul longsor. Juru Bicara Pertamina, Ali Mundakir, menyampaikan, instruksi Karen itu setelah meninjau langsung proyek yang menewaskan lima orang itu.
"Setelah tinjau lokasi longsor di WKP Sungai Penuh, Dirut Pertamina Karen Agustiawan, instruksikan jajaran Pertamina Geothermal Energy untuk mengevaluasi semua operasi pemboran panas bumi terkait cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana alam dan mengganggu keselamatan kerja," kata Ali Mundakir kepada Tribunekompas, Senin 28 Januari 2013.
Longsor di Cluster B proyek pembangunan listrik energi panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) terjadi saat para pekerja menikmati sajian makan malam. Hujan lebat mengguyur lokasi Sabtu 26 Januari 2013 sejak pukul 15.00 WIB. Tiba-tiba pukul 19.30 WIB terdengar suara gemuruh tanah longsor.
Tahu akan terjadi longsor, seluruh pekerja yang berada di lokasi panik. Banyak pekerja berlarian untuk menyelamatkan diri. Bahkan ada pekerja yang tetap berada di dalam container yang dijadikan tempat penginapan pekerja.
Namun, sembilan pekerja lainnya tertimbun tanah dan terjepit kontainer. Lima pekerja meninggal dunia dan empat orang selamat dengan kondisi terluka parah, satu orang korban terpaksa diamputasi.
Kapolres Kerinci AKBP Ismail SH ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian longsor di Desa Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, tepatnya di lokasi titik Cluster B, dalam lokasi pembangkit listrik PT PGE. ”Ya, lima korban meninggal sudah berhasil dievakuasi. Di antaranya Ahmad Saiku (40), bekerja sebagai asisten diller dan rekannya Yanto (33), driver ambulan PT Rizki. Kemudian terakhir jenazah Miswanto ditemukan di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB siang tadi,” ujarnya.
Labil Akibat Pengeboran?
Menurut Ismail, penyebab longsor untuk sementara dikarenakan faktor alam. Bisa juga kondisi tanah longsor, labil karena pengeboran sehingga lokasi menjadi rawan longsor. Akibat tanah ambruk, puluhan kontainer bergeser dari posisi awal.
”Tanah tebing yang ada di kamp pekerja ambruk karena diguyur hujan deras, dan menimbun peti kemas yang dijadikan tempat mereka tidur,” katanya.
Ia mengaku evakuasi korban dilakukan sejak Sabtu malam dengan 100 personel dari Polres Kerinci, dibantu Kodim 0417 Kerinci, BNPB, Basarnas Jambi dan PMI. “Pencarian sempat kami hentikan pada pukul 04.30 WIB, kemudian kita lanjutkan pada siang hari,” katanya.
Sementara, humas PT Pertamina Geothermal Energi, Riki, mengatakan lima jenazah korban longsor di lokasi pembangkit listrik energi panas bumi PT PGE akan diantar ke rumahnya masing-masing. Tiga korban berasal dari Jawa Timur, satu lagi berasal dari Palembang dan satu korban lagi diketahui berasal dari Sumatera Barat. ”Perusahaan bertanggungjawab untuk mengantar jenazah mereka ke keluarga,” ujarnya.
Untuk informasi, lima korban yang ditemukan meninggal tersebut, adalah Yanto (33) karyawan PT RPN, Ahmad Saiku (40) karyawan PT Harko, Triono (56), karyawan PT Pra, dan M Nasoka, yang merupakan karyawan PT ADS kemudian Miswanto, korban terakhir belum diketahui dari PT mana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar