Rabu, 30 November 2011

Pedagang Pakaian Ditembak Begal, Uang Puluhan Juta & Perhiasan Digondol

INDRAMAYU, (Tribunekompas)
By: Anto.


– Seorang pembegal menembak istri pedagang pakaian hingga terkapar. Setelah korbannya tak berdaya, 4 pelaku itu kabur menggondol uang puluhan juta rupiah dan puluhan gram perhiasan emas, Senin (28/11) malam.

Korban Dana, 40 dan istrinya Ny. Daroh, 37 warga Desa Cigugur, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang itu dibegal saat dalam perjalanan pulang di Blok Banem, Desa Bugis, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jabar.

Selang berapa lama, anggota Polres Indramayu, Selasa (29/11) berhasil membekuk dua di antara 4 pembegal itu yaitu Tah alias Takir, 23 penduduk Desa Compreng, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang dan Buradus, 34 alamat Desa Salamdarma, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu. Polisi menyita Suzuki Satria Fu T 2942 UH dan STNK Honda Vario T 3859 VL, kaos, sweater serta celana jeans yang merupakan barang dagangan milik korban.

Polisi masih memburu dua pelaku yang kabur membawa harta benda hasil kejahatan. Identitas mereka yaitu GIT dan WAR. Ny. Daroh, 37, korban yang terluka tembak di punggung, hingga kini masih dalam perawatan di rumah sakit ditunggui suaminya Dana, 40 warga Desa Cigugur,Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang.

Keterangan di Mapolres Indramayu menyebutkan, Dana, 40 saat itu naik Honda Tiger mengawal istrinya Ny. Daroh naik Honda Vario yang akan pulang ke rumah sehabis berjualan. Sesampai di Blok Banem, Desa Bugis, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, 2 motor suami istri itu dicegat 4 pelaku yang naik 2 sepeda motor.

Pelaku menendang Dana hingga sepeda motornya terjatuh. Pelaku lain merebut tas. Ny. Daroh sempat mempertahankan tas itu. Namun salah seorang pembegal malah menembak korban hingga mengenai punggungnya. Korban terjungkal, pelaku kabur menggondol tas berisi uang tunai puluhan juta rupiah, puluhan gram perhaisan emas serta barang dagangan.

Polisi yang mendapat laporan dari korban memburu para pelaku, hingga Selasa (29/11) polisi berhasil mengamankan 2 pembegal, berikut barang bukti di kediamannya.

Sabtu, 26 November 2011

Polisi Tangkap Sembilan Pembalak Liar

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Sembilan pembalak liar di Kalimantan Barat ditangkap dalam Operasi Hutan Lestari yang dilaksanakan oleh Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia bersama Kepolisian Daerah Kalimantan Barat.

“Sembilan pelaku penebangan dan pencurian hutan itu telah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kepala Devisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution di kantor, Jumat 25 November 2011.

Saud menjelaskan dalam pelaksanaan operasi itu, Mabes melakukan operasi terpusat sedangkan Polda Kalimantan Barat operasi imbangan.

“Mabes menangkap tiga pelaku, sedangkan Polda Kalimantan Barat menangkap enam pelaku,” kata Mantan Kepala Densus 88 itu.

Tiga pelaku yang ditangkap Mabes, yakni S warga Putusibau (50 tahun), A (50 th) warga Pontianak, dan J (60 th) dari Pontianak. Dari tangan mereka disita kayu 2450 batang dan 500 kubik.

Sedangkan Polda Kalimantan Barat menangkap S warga Ketapang, O warga Ketapang, ME warga Nangapino, Melawi, S warga Durian Sebatang Kabupaten Kayong Utara, E warga Kayan Hilir Kabupaten Sanggau, serta A warga Kayan Hilir. Polisi menyita 3190 batang kayu gelondongan. “Kasus ini ditangani oleh Polda Kalimantan Barat,” kata Saud.

Mereka dikenakan Pasal 50 ayat 3 huruf (f) menebang tanpa izin dan (h) membeli tanpa izin, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan terancam hukuman pidana penjara selama 9 tahun menebang tanpa izin dan 6 tahun untuk yang menjual tanpa izin.

Jumat, 25 November 2011

Kabel Sering Di curi Perjalanan Kereta Jadi Kacau

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Lalu lintas kereta api listrik mengalami kemacetan di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, sejak Rabu kemarin hingga pagi tadi. Penyebabnya adalah pencurian kabel pada panel sinyal pengatur lalu lintas kereta.

"Awalnya kami kira kerusakan karena tersambar petir, tetapi setelah ditelusuri ternyata ada yang mencuri kabel di panel sinyal Stasiun Manggarai," kata Kepala Humas PT KAI Daops I Mateta Rizalulhaq, Kamis, 24/11.

Pencurian itu, lanjut dia, diduga terjadi pada pukul 18.05 WIB kemarin petang karena sejak saat itu panel sinyal tidak berfungsi. Akibatnya, terjadi penumpukan kereta api listrik yang akan masuk ke Stasiun Manggarai. "Tiap kereta yang mau masuk harus menunggu sekitar 1,5 jam tadi malam," ujarnya.

Namun menjelang pagi, waktu antrean berangsur kurang, sekitar 1 jam per kereta. Arus lalu lintas kereta baru normal kembali pada pukul 09.05 WIB tadi.

Pencurian perangkat stasiun seperti ini, kata Mateta, kerap terjadi. Tidak hanya di Stasiun Manggarai saja, tapi di banyak stasiun. Mateta sendiri tidak bisa memastikan pencurian tersebut dapat mudah diantisipasi. "Stasiun di Indonesia itu terbuka. Jadi, yang bisa melintas masuk ke stasiun tidak hanya penumpang saja, siapapun bisa," ujarnya.

Banyaknya orang yang hilir mudik itu membuat petugas sulit melakukan pengawasan. "Apalagi perangkat stasiun beragam dan di banyak tempat." Karena terkendala petugas pengawas, dia pun meminta masyarakat untuk tidak melakukan pencurian perangkat stasiun.

"Tolong bantu petugas juga untuk lakukan pengawasan karena kelakuan tangan jahil itu bisa berakibat fatal pada ratusan nyawa penumpang," kata dia.

Minggu, 20 November 2011

Tiga Jemaah RI Ditahan Penegak Hukum Saudi

MEKKAH, (Tribunekompas)
By: Anto.


– Tiga jamaah haji Indonesia terpaksa berurusan dengan penegak hukum Arab Saudi dengan peristiwa berbeda. Menurut Kepala Seksi Pengamanan Daerah Kerja Makkah Bastomi, pertama, seorang jamaah asal kloter 5 embarkasi Ujung Pandang divonis 10 hari kurungan dan didera 30 kali. Jamaah itu dikenai tuduhan pencurian di Masjidil Haram. Di mahkamah (pengadilan), dia dinyatakan bersalah.

“Kejadiannya sebelum wukuf di Arafah. Sudah diputus oleh mahkamah. Kalau tidak salah, hari ini (kemarin, Red), ya besok (hari ini, Red), bebas,” ujar Bastomi di kantor Misi Haji Indonesia di Makkah, Arab Saudi, kemarin (19/11). Karena berurusan dengan hukum, jamaah yang bersangkutan tidak bisa pulang dengan rombongan kloternya yang sudah diterbangkan dari Jeddah menuju debarkasi tanah air. “Nanti jamaah tersebut digabungkan dengan kloter lainnya,” imbuhnya.

Selain itu, seorang jamaah dari kloter 8 embarkasi Palembang ditangkap polisi, karena dituduh berkomplot dengan para joki yang menyediakan jasa membantu mencium Hajar Aswad. Jamaah ini dibawa ke kantor polisi yang terdekat dengan Masjidil Haram “Kejadiannya di Masjidil Haram. Disidik di kepolisian setempat. Tidak terbukti besalah kemudian dilepas. Tapi menginap sehari semalem di kepolisian,” imbuhnya. Seorang jamaah lagi dibawa ke kantor polisi, karena kecopetan handphone.”Dia dibawa ke kantor polisi sebagai saksi. Tapi kemudian HP-nya ketemu. Dia sempat takut, karena dibawa polisi,” imbuhnya.

Di samping itu, seorang petugas haji dari Indonesia juga sempat berurusan dengan penegak hukum, karena mengendarai sepeda motor tanpa mempunyai surat izin mengemudi.”Yang bersangkutan sempat ditahan sehari,” jelasnya.

Di bagian lain, menyusul sempat terkatung-katungnya jamaah haji kloter 18 SOC (Solo) sekitar 2 hari sebelum dipulangkan ke tanah air, beberapa hari lalu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Muassasah, dan Garuda Indonesia duduk bersama kantor Muassasah Asia Tenggara di Makkah pada 17 November. Pertemuan yang dihadiri Ketua PPIH Syairozi Dimyati dan Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat, Agus Wibowo dan Fauzi Palembang dari Garuda, serta Ketua Muassasah Asia Tenggara Zuhair Abdul Hamid Sedayu itu membahas kejadian kloter 18 SOC dan mencari jalan keluar agar kejadian tersebut tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Hasil pertemuan, kata Arsyad, jumlah penumpang yang dimasukkan ke dalam sistem tidak akan diberlakukan sebagai patokan pengiriman jamaah haji dari Makkah ke Jeddah. “Tahun depan baru akan diberlakukan,” tegas Arsyad.

Arsyad mengungkapkan, pada tahun ini berlaku sistem bahwa setiap pemberangkatan harus termonitor sistem penjadwalan dari otoritas Bandara King Abdul Aziz, GACA (General Authority of Civil Aviation). Maktab yang merupakan kepanjangan tangan Muassasah dan Naqabah (sejenis Organda) bertanggung jawab memberangkatkan bus, bekerja berdasarkan jadwal yang mereka monitor secara online di sistem GACA.

Kloter 18 SOC yang seharusnya diberangkatkan dari Makkah ke Jeddah pada 15 November, tidak diberangkatkan Naqabah disebabkan karena jumlah penumpang yang di-entry ke dalam sistem berjumlah 130 orang jamaah. Padahal kapasitas seat yang dibutuhkan untuk kloter 18 SOC adalah 375 orang.

Kloter 18 SOC akhirnya diterbangkan ke Indonesia pada Kamis 17 November pukul 22.00 waktu setempat. Mereka langsung berangkat dari Makkah menuju Bandara King Abdul Azis, Jeddah. Padahal, biasanya jamaah haji transit selama 24 jam di hotel transito Jeddah.

Sementara itu, hingga kemarin siang pukul 13.34 waktu setempat, sebanyak 53.230 jamaah haji Indonesia sudah diterbangkan ke Indonesia. Mereka tergabung dalam 131 kloter. Sedangkan hari ini (20/11) rencananya diberangkatakan 17 kloter. Di antaranya, kloter 28, 29, dan 30 SOC (Solo), 22,23, 24, dan 25 JKS yang mengangkut jamaaah dari Jawa Barat, serta kloter 13 JKG yang membawa jamaah dari Banten. Adapun jumlah jamaah haji yang meninggal dunia sebanyak 361 orang. Yang paling banyak dari embarkasi Surabaya, 70 orang, sedangkan yang paling sedikit dari embarkasi Balikpapan, 11 orang.

Mayat Pria Ditemukan di Hotel Astika

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Sesosok mayat pria bernama Ling Ai Ung, 66 tahun, ditemukan tergeletak di sebuah kamar Hotel Astika, Mangga Besar, Jakarta Barat, Sabtu siang, 19 November 2011. Mayat ditemukan dalam keadaan telanjang di kamar 319 oleh Juanda, seorang pelayan hotel.

Dari penuturan Juanda, ia hendak mengingatkan kepada penghuni kalau waktu menginap sudah habis. "Sewaktu petugas masuk, kondisi penghuni sudah tidak bernyawa," ujar Juanda.

Dari lokasi kejadian, aparat berhasil mengetahui identitas korban, yaitu Ling Ai Ung. Korban tinggal di Jalan Irian Kampung Ambon, Manokwari Timur, Papua Barat.

Sebelumnya, korban check in di Hotel Astika pada Jumat siang, 18 November 2011, dengan penyewa kamar atas nama Budianto, teman korban.

Sementara itu, Kepala Unit Reskrim Polsek Tamansari Jakarta Barat, Ajun Komisaris Hermanto mengatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

"Kami akan lakukan penyelidikan lebih dalam," ucap Hermanto. Selanjutnya, kata Hermanto, jenazah korban dibawa ke RS Cipto Mangukusumo, Jakarta Pusat.

Jumat, 18 November 2011

Kejaksaan Ngotot Nazar Tersangka, Polri Tak Mau Ambil Pusing

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Kejaksaan Agung dan Polri beda pendapat soal kasus pencemaran nama baik Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urnaningrum yang melibatkan Nazaruddin.

Polri belum memastikan bahwa Nazaruddin tersangka, sementara Kejagung menganggap Nazaruddin telah menjadi tersangka berdasarkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Polri yang diterima Kejagung.

Soal penetapan tersangka yang dilakukan Kejagung, Polri tak mau ambil pusing. Kata Kadiv Humas Polri Irjen Saud Usman lingkungan Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat sore (18/11), soal Nazaruddin jadi tersangka, itu urusan jaksa.

"Jadi, silahkan tanya ke jaksa. Karena begini, berkasnya saja belum lengkap, bagaimana mau kirim. Nanti kalau sudah lengkap berkas, baru kita kirim (dan Nazaruddin jadi tersangka). Kalau jaksa mau menunjuk jaksa peneliti silahkan saja, itu kan hak mereka. Tidak ada masalah," katanya lagi.

Masih kata Saud, dalam KUHAP itu cuma ada saksi dan tersangka. Tidak ada terlapor. "Kita kan tidak bisa ujug-ujug periksa orang langsung sebagai tersangka, tapi sebagai saksi dulu, apakah ada unsur pidana atau tidak," imbuhnya.

Kamis, 17 November 2011

Penembak Kembali Teror Papua

PAPUA, (Tribunekompas)
By: Leo. S.

- Insiden penembakan kembali terjadi di ladang eksplorasi PT Freeport. Seorang supir terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat tertembak di bagian lehernya. "Korban masih menjalani perawatan," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Saud Nasution, Rabu petang 16/11.
Insiden terjadi dua kali sekitar pukul 13.00 WIT. Penembakan pertama terjadi saat kendaraan petugas kepolisian berkode 29 sedang melintas di mile 51, Timika. "Penembakan pertama tidak menimbukan korban, hanya ada sedikit kerusakan di badan kendaraan," katanya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, penembak gelap juga meneror mobil trailer milik PT Freeport yang sedang dikendarai Makasaung. Malang baginya. Timah panas yang melesat dari senjata penembak gelap itu menembus lehernya saat kendaraannya melintas di mile 56-57, Timika.

Untuk menungkap identitas pelaku penembakan tersebut, kata Saud, polisi hingga kini masih mempelajari tempat kejadian dan menggali keterangan dari sejumlah saksi. Adapun korban penembakan sudah dilarikan ke RS Tembagapura guna keperluan perawatan. "Korban luka berat," katanya.

Insiden ini merupakan serangkaian teror yang terjadi sejak aksi demonstrasi buruh PT Freeport yang menuntut perbaikan kesejahteraan dan pasca penyelenggaraan kongres pembentukan negara Papua Barat. Polisi menduga kejadan tersebut ditunggangi kelompok separatis, Organisasi Papua Merdeka.

Guna keperluan pengamanan, kata Saud, ratusan petugas gabungan dari satuan TNI-Polri masih berjaga di sekitar ladang seksplorasi PT Freeport. Namun pengerahan kekuatan itu dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan karena medan yang sangat luas. "Problem medannya sangat sulit karena banyak hutan," katanya.

Senin, 14 November 2011

Pencuri Motor di Warnet Dihajar Warga

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Seorang tersangka pencuri motor babak belur dihajar warga setelah kedapatan beraksi di areal parkir warung internet (warnet) di Tanjungpriok, Jakarta Utara, Sabtu (12/11) pukul 11.40. Untungnya polisi segera datang ke lokasi kejadian, sehingga nyawa pencuri motor itu bisa diselamatkan.

Pencuri motor itu mengaku bernama Fandi Ahmad (23), warga Tarumajaya, Bekasi, Jawa Barat. Fandi beraksi bersama temannya berinisial AS. Mereka mengendarai motor Honda Beat hitam B 6697 EVP.

Siang itu Fandi dan AS menyambangi areal parkir Warnet Army Net di Jalan Bugis, No IC, RT 18/02, Kelurahan Kebonbawang, Tanjungpriok. Di areal parkir itu tampak motor Yamaha Mio putih B 6173 UMG milik Dwi Jayanti (22), warga Kelurahan Sungaibambu, Kecamatan Tanjungpriok.

Seusai memarkir motornya, Dwi pun masuk ke dalam warnet. Saat itulah AS menghampiri motor milik Dwi. Sedangkan Fandi memantau dengan tetap berada di motornya. Dengan menggunakan kunci berbentuk huruf "T", AS berhasil membuka kunci stang. Lalu menyalakan mesin dan membawa kabur motor Dwi.

Namun aksinya itu diketahui warga setempat. Salah seorang warga, Nanang (35) yang melihat itu langsung berteriak. "Saya sedang melintas di depan warnet itu. Saya lihat ada lelaki tidak dikenal mengutak-atik motor. Lalu menghidupkan mesin motor," tutur Nanang.

Mendengar teriakan itu, AS mempercepat laju motor curiannya itu ke arah Jalan Yos Sudarso. "Pencuri yang berhasil membawa motor korban berhasil kabur. Tetapi teman pencuri, Fandi yang mengendarai motor Honda Beat berhasil ditangkap warga. Dia berusaha kabur tetapi sudah dikepung warga," tutur Nanang.

Fandi pun babak belur dihajar warga yang marah. Untungnya sekitar 15 menit kemudian aparat Polsek Tanjungpriok datang ke lokasi kejadian dan langsung mengamankan Fandi.

Kepada wartawan, Dwi menuturkan bahwa dirinya mengetahui motornya dicuri setelah mendengar suara teriakan warga setempat. "Motor baru saya tinggal sekitar sepuluh menit kok. Mendengar ada teriakan warga, saya keluar dari dalam warnet. Ternyata motor saya dicuri," ujar Dwi, mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan.

Kanitreskrim Polsek Tanjungpriok, Ajun Komisaris Sunardi, belum bisa menjelaskan apakah Fandi dan kawannya itu merupakan kawanan pencuri motor yang kerap beraksi di kawasan Tanjungpriok. "Kami masih melakukan penyelidikan dengan mengejar teman Fandi," kata Sunardi.

Sabtu, 12 November 2011

Dua Polisi Terancam Bui 20 Tahun Akibat Terima Suap 1 Milyar

BANDUNG, (Tribunekompas)
By: Tony.S.


- Dua anggota Kepolisian Resor Kota Besar Bandung terancam hukuman 20 tahun penjara akibat menerima suap Rp 1 miliar dari seorang warga Malaysia yang tertangkap mengantongi 4 gram sabu di bandara Husein Sasteranegara, Kota Bandung, Juli lalu.

Ancaman hukuman 20 penjara itu terungkap dalam sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor Negeri Bandung, Jum'at 11 November 2011, siang tadi. Terdakwa yang diadili itu adalah eks Kepala Polsek Cicendo Kota Bandung Komisaris Polisi Brusel D. Samodra dan bekas Kepala Unit Reserse Kriminal Cicendo Ajun Komisaris Suherman.

Dakwaaan itu dibacakan jaksa penuntut umum dalam sidang terpisah yang dipimpin Ketua Majelis Hakim G.N Arthanaya. Keduanya didakwa secara berlapis dengan Undang-Undang Antikorupsi Nomor 20 Tahun 2001 pasal 12 huruf a, Pasal 5 ayat (2), dan Pasal 11. Serta Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 55 ayat (1) kesatu.

"Tindak pidana dilakukan Brusel bersama-sama dengan Suherman di Kantor Polsek Cicendo. Ancaman hukumannya, kalau menurut pasal 12, maksimal 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar," ujar jaksa penuntut dari Kejaksaan Negeri Bandung, Suroto, seusai sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Jumat, 11 November 2011.

Peristiwa berawal ketika petugas Bea dan Cukai Bandara Husein Sasteranegara mengamankan seorang warga negara Malaysia bernama Azri bin Abdullah karena kedapatan membawa 4,27 gram sabu di dalam dompetnya pada Senin malam 11 Juli 2011. Warga Negeri Jiran itu diamankan sesaat setelah turun dari pesawat bersama seorang perempuan warga Indonesia bernama Widianingsih.

Tengah malam itu juga, Bea dan Cukai lalu menyerahkan tangkapan mereka berikut barang bukti kepada Brusel dan Suherman untuk diproses di Polsek Cicendo. Brusel lalu memerintahkan Suherman supaya memeriksa urin Azri dan Widianingsih. Dari hasil tes urin di RS Sartika Asih itu, kata Suroto, ternyata Azri positif telah mengonsumsi sabu, dan dia harus ditahan.

Namun alih-alih menjebloskan tersangka ke dalam sel tahanan, Brusel malah tergiur duit yang ditawarkan Azri kepada Suherman. Saat diinapkan di ruangan Kepala Unit Reserse Kriminal, Azri meminta tolong kepada Suherman agar penahanannya ditangguhkan dengan alasan anaknya sedang sakit. "Untuk itu (penangguhan penahanan), Azri juga menyatakan bersedia memberikan uang Rp 1 miliar," kata Suroto.

Kamis, 10 November 2011

Bareskrim Segera Gelar Perkara Pencurian Pulsa

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Untuk mengembangkan kasus penipuan pulsa oleh content provider, Badan Reserse dan Kriminal Polri akan melakukan gelar perkara .

"Dalam waktu dekat ini penyidik kita akan melakukan gelar perkara juga, untuk membahas lebih jauh modus operandi, untuk mengukur dan mengetahui bagaiamana tingkat kerugian yang dialami korban," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (10/11).

Saat ini, polisi masih terus mengumpulkan tambahan fakta dari para korban, terutama untuk memastikan modus operandinya dan menelusuri sampai sejauh mana tingkat kerugian konsumen dari program yang ditawarkan operator. Dalam gelar perkara itu juga akan melibatkan pakar teknologi informasi.

"Jadi itu masih terus dilakukan pendalaman. Ada usaha yang dilakukan penyidik untuk mengetahui lebih jauh sampai sejauh mana kerugian masyarakat. Ini didasarkan pada laporan yang telah disampaikan perwakilan masyarakat yang ada di Polda Metro dan sudah sampai ke penyidik kita," ucapnya.

Rabu, 09 November 2011

Polisi Sesalkan Sikap Tertutup Manajemen Shy Rooftop

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.

- Kepolisian Daerah Metro Jaya menilai ada kelalaian dari petugas keamanan Shy Rooftop sehingga terjadi penusukan yang berbuntut korban jiwa di tempat hiburan malam itu pada Sabtu dinihari pekan lalu. "Fungsi keamanan tidak berjalan baik," kata juru bicara Polda, Komisaris Besar Baharudin Djafar, di Markas Polda, Selasa 8 November 2011.

Menurut Baharudin, pihaknya juga menyesalkan sikap manajemen Shy Rooftop yang menutup-nutupi kasus itu. "Sekarang apa lagi yang bisa ditutup-tutupi? Kan sudah ada korban," kata mantan juru bicara Kepolisian Daerah Sumatera Utara itu.

Sebelumnya, Raafi Aga Winasya Benjamin, 17 tahun, siswa Sekolah Menengah Atas Pangudi Luhur, ditusuk orang tidak dikenal di kafe Shy Rooftop, di gedung Papilion, Jalan Kemang Raya Nomor 45, pada 6 November sekitar pukul 02.00 WIB. Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Siaga Raya, Pasar Minggu, tapi nyawanya tidak tertolong.

Baharudin menyatakan hingga kini polisi belum bisa mengidentifikasi pelaku penusukan Raafi. Dari 24 saksi yang sudah diperiksa, tidak seorang pun yang mengenal atau mengingat ciri-ciri pelaku. Motif penusukan belum jelas, apakah hanya diawali senggolan atau ada motif lain.

Korban ditusuk di dalam kafe Rooftop dan darahnya berceceran di karpet. Polisi telah mengambil sampel noda darah itu untuk diperiksa di laboratorium forensik Polri. Saat ditanya soal dugaan manajemen Shy Rooftop menghilangkan alat bukti dan membersihkan lokasi kejadian sebelum polisi datang, Baharudin belum bisa memastikan.

"Kalau memang ada tindakan menghilangkan barang bukti, kami usut," kata Baharudin. Sebelumnya, petugas keamanan Shy Rooftop, Supriadi, membantah telah menghilangkan barang bukti.

Keluarga Raafi menolak memberi keterangan terkait dengan kasus tersebut. Tempo, yang mendatangi rumah Raafi di Jalan Kemang Timur Raya RT 07 RW 03, kemarin hanya ditemui oleh seorang pembantu rumah tangga. Dia menyebutkan, "Keluarga Raafi menyarankan agar mencari keterangan ke pihak kepolisian."

Rumah keluarga Raafi tampak sepi. Dari balik pagar cokelat setinggi 2 meter itu, terlihat karangan bunga ucapan belasungkawa di halaman rumah.

Secara terpisah, Wakil Ketua RT 07 RW 03 Kelurahan Bangka, Zaenal Arifin, menyatakan keluarga Raafi baru tinggal selama sebulan di Jalan Kemang Timur Raya. "Baru pindah dari daerah Pejaten," ujar Zaenal.

Selama tinggal di Kemang, keluarga Raafi belum pernah bersosialisasi dengan warga. Zaenal tidak mengetahui profesi orang tua Raafi. Setelah Raafi meninggal, keluarga mengundang warga sekitar dan teman almarhum untuk menggelar acara tahlilan.

Sejak peristiwa penusukan hingga kemarin, Shy Rooftop ditutup. "Kami belum tahu kapan Rooftop buka lagi. Soal kejadian itu, kami juga tidak mengerti, silakan tanya ke manajemen Rooftop," kata karyawan Shy Papilion, pengelola gedung tempat Rooftop berada.

Selasa, 08 November 2011

Polisi Duga Penghilangan Barang Bukti Kasus Raafi

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Polisi menduga ada upaya penghilangan barang bukti dalam kasus tewasnya Raafi Aga Winasya Benjamin, 17 tahun, siswa kelas III SMA Pangudi Luhur Jakarta Selatan.

Polisi pun terpaksa melakukan olah kejadian ulang di Shy Rooftop Kemang, Jakarta Selatan, Senin 7 November 2011. Namun, polisi tak juga menemukan bukti berupa bercak darah atau pun pisau yang dipakai menusuk Raafi.

“Kami mencoba mengembangkan pemeriksaan karena ada upaya penghilangan barang bukti” kata Kepala Polres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto.

Raafi dikabarkan ditusuk saat pesta ulang tahun temannya pada Sabtu 5 November 2011 dini hari di Shy Rooftop, Kemang. Pelaku diduga menusuk perut bagian kanan Raafi hingga membuat Raafi jatuh tersungkur. Dalam perjalanan ke Rumah Sakit Siaga Pasar Minggu, Raafi menghembuskan nafas terakhirnya.

Menurut Imam, polisi udah tiba di lokasi sekitar pukul 04.00 WIB, Sabtu dini hari. Saat dilokasi, kata Imam, timnya sudah menemukan fakta: korban sudah tidak ada dan bercak darah di seluruh lokasi sudah dibersihkan pihak manajemen tempat hiburan. Tetapi, polisi belum tahu apakah upaya pembersihan bercak darah korban itu disengaja atau tidak.

Dalam olah tempat kejadian perkara kemarin, kata Imam, polisi mengambil rekaman kamera Closed Circuit Television (CCTV) klab Shy Rooftop.Meski begitu, Imam belum dapat memastikan bahwa kamera tersebut merekam kejadian penusukkan murid SMA Pangudi Luhur tersebut. “Pisau yang dipakai menusuk juga tidak ditemukan” kata Imam. "Kami tidak bisa menduga apakah senjata tajamnya itu dari luar atau dari dalam. Kami tidak bisa berandai-andai".

Senin, 07 November 2011

Petani Habis Jual Panen Di Rampok, Perut Kena Tusuk

LAMPUNG, (Tribunekompas)
By: Anto.


– Usai menjual hasil panen bumbu masak kemiri langsung dirampok di tengah jalan, korban melawan sehingga perutnya ditusuk lalu uang Rp.1,5 juta berhasil dibawa kabur perampok. Korban seorang petani Andrian Susanto ,22, warga Dusun Anglo, Kecamatan Padang Cermin, Pesawaran, pada Sabtu pukul 09.30 WIB., Aksi perampokan terjadi di lokasi Kelapa Bengkok, Dusun Binong, Desa Waylayap, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran.

Beruntung korban tidak dibunuh karena mencoba mempertahankan uang yang niatnya untuk membayar hutang-hutang di warung. Korban yang perut sebelah kananya terluka parah hanya bisa pasrah melihat uangnya dibawa kabur. Saat korban sudah tidak lagi bisa berteriak lewat warga yang mau ke pasar dan langsung membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeluk, Bandarlampung.

Menurut pengakuan korban,”saya berangkat dari mengambil uang hasil jual kemiri di Bandarlampung menggunakan motor Yamaha Vega R. Saat melintas di Dusun Binong kendaraan saya disalip sebuah mobil Toyota Avanza hingga berhenti mendadak.

Dari dalam mobil turun 2 pria berperawakan tinggi dan langsung menusukkan pisau ke perut saya, saya sempat melawan ketika mereka memegang kantong celana saya tapi darh deras mengucur yang akhirnya membuat saya hanya bisa pasrah. perampok langsung mengambil uang Rp.1,3 juta hasil menjual buah kemiri di saku celana kanan saya ,” kata korban.

Kanitreskrim Polsek Gedong Tataan, Ipda Hamdani membenarkan adanya laporan warga yang dirampok saat melintas di wilayahnya dan pihaknya langsung melakukan pengejaran terhadap para pelaku perampokan yang diduga 4 orang dengan menggunakan mobil.

Minggu, 06 November 2011

Di Wonogiri Pencurian Komputer Semakin Marak

WONOGIRI, (Tribunekompas)
By: Wiwik Budipriyanto.


- Genap delapan sudah SMP di Wonogiri yang kemalingan komputer. Mulai dari yang hanya satu dua laptop, hingga puluhan CPU. SMPN 1 Ngadirojo giliran kemalingan 12 CPU, satu monitor LCD 27 inchi yang ada di ruang lab komputer, dengan total kerugian Rp 15 juta, pada Sabtu (5/11) lalu, komputer tersebut pengadaan komite sekolah tahun 2007.

Sebelumnya SMPN 2 Ngadirojo juga kemalingan. Enam SMP lainnya adalah SMPN 1 Pracimantoro, SMPN 1 dan 2 Manyaran, SMPN 1 Eromoko, SMPN 1 Giriwoyo, dan SMPN 1 Puhpelem. Kejadian kali pertama diketahui oleh Sudar (59) tukang kebun sekolah. “Sekitar pukul 05.00 WIB saya mengantar es batu ke kantin belakang. Saya lihat kok jendela di bawah, ternyata salah satu jendela sudah bolong. Saya lalu meminta penjaga sekolah membuka pintu laboratorium dan dari 21 komputer (CPU-red), yang 12 hilang,” jelasnya. Jejak kaki yang diduga pelaku menuju ke arah selatan di sekitar makam tak jauh dari sekolah.

Sebelumnya, pelaku yang diduga lebih dari dua itu diduga melewati pagar kawat berduri yang kawatnya tersibak ke atas. “Warga biasa lewat situ dan murid juga. Sebenarnya sudah kami minta jangan lewat pagar tapi ya tetap saja dipakai lewat,” jelas Kepala Sekolah Parman. “Tapi masih untung yang di lab bahasa tidak ada yang
hilang. 19 komputer di sana baru dibeli tahun ini jadi masih baru.

Kami sebenarnya juga sudah khawatir dengan makin banyaknya SMP yang kemalingan komputer, tapi untuk membangun pagar dan teralis besi kami sulit dalam pendanaan. Rencana sudah ada tapi biaya yang tidak ada,” lanjut Kepala TU Marijo. Parman menambahkan ada kemungkinan pelaku sudah mempelajari area sekolah.

“Awal pekan lalu kami merayakan Dies Natalis sekolah ke-30. Ada berbagai kegiatan. Terakhir hari Rabu (2/11) ada pertunjukan wayang dari alumni sini. Jadi bisa saja pelaku melihat-lihat area sekolah,” tegas Parman.

Kapolres Wonogiri AKBP Ni Ketut Swastika mengatakan motif hampir sama dengan mencongkel jendela. Bentuk jendela pun sama, jendela berengsel dilapisi teralis besi dibaut.

“Memang harusnya dibuat jeruji seperti di tahanan itu, tapi memang harus berani mahal. Kalau seperti ini sama seperti yang di Eromoko dulu. Persis seperti ini,” kata Ni Ketut Swastika.

Kapolres kambali mengimbau agar penjagaan di tiap sekolah dioptimalkan. Selain itu, tiap sekolah juga diharap waspada karena hingga saat ini belum ada pelaku yang tertangkap.

“Kebanyakan kejadian selama ini kalau tidak Jumat ya hari Sabtu. Jadi kami minta untuk akhir minggu diwaspadai,” pungkasnya.

Guru SD Itu Menjadi Korban Yayan Yang Mengamuk

KOTA BANJAR, (Tribunekompas)
By: Rangga.


- Yayan (34) tiba-tiba mengamuk tanpa alasan jelas. Kerabatnya dibacok. Tak hanya itu pegawai si kerabat juga jadi korban keberingasannya. Akibatnya, keduanya harus menjalani perawatan di RSUD Kota Banjar.

Adalah Wawan Sofwan (40) yang jadi korban. Warga Dusun Randegan I, Purwaharja, Kota Banjar itu terluka di beberapa bagian tubuhnya. Selain Wawan, salah seorang pegawainya, Dahli (44), juga harus dirawat. Dia turut menjadi korban.

Ceritanya berawal kala Yayan dan keluarganya datang ke rumah Wawan. Ya, Yayan bertamu dengan membawa Ny Iin, istrinya dan seorang anaknya. Antara Yayan dan Wawan memang masih kerabat. Yayan adalah saudara sepupu Ny Amanah, yang tak lain istrinya Wawan.

Kepada Wawan, Yayan mengutarakan berbagai permasalahan hidup yang sedang dialaminya. Pekerjaan tak punya, istri sedang hamil tua dan uang pun tak ada. Wawan yang guru SDN 1 Mekarharja, Banjar ini memperlakukan dengan baik. Dia pun memberikan masukan agar dia tabah. Termasuk memberikan saran agar Yayan mengurungkan niatnya pergi merantau ke luar kota. Wawan juga sempat menawarkan pekerjaan karena dia tengah membangun rumah.

Yayan yang saat itu membawa tas besar, akhirnya memutuskan untuk menumpang menginap. Wawan. tak keberatan.

Hingga menjelang petang, belum ada gelagat jahat yang diperlihatkan Yayan. Hanya saja ketika membayar pegawai dan mengambil uang di laci meja. Yayan mulai jelalatan. Matanya sempat menatap tajam ke uang di laci yang memang disiapkan untuk keperluan membangun rumah. "Tapi saat itu saya tak terlalu curiga," kata Wawan.

Nah, selepas Isya, Wawan pun melakukan kebiasaannya setiap malam. Bekerja di depan komputer, menyiapkan materi pelajaran untuk besok pagi. Dia ditemani Dahli, yang tengah asyik nonton televisi. Sementara Yayan dan anak istrinya tidur di kamar. Begitu pula dengan anak istri Wawan, sudah pulas tidur.

Entah apa penyebabnya, sekitar pukul 21.00 WIB, Yayan menyelinap ke luar kamar. Tanpa banyak bicara, Yayan mendekat lalu membacok punggung Wawan berkali-kali. Karuan Wawan kaget. Dia berusaha melawan. Dahli yang baru saja sadar dari kagetnya tak luput dari incaran Yayan yang seolah kesetanan. Dua kali bacokan golok mendarat di kepala Dahli, tepat di ubun-ubun. Darah pun muncrat. Pergumulan dimulai. Sekuat tenaga Wawan dan Dahli merebut golok, tapi Yayan malah kalap.

"Saya tangkap golok itu dengan tangan kiri ketika hendak diayunkan ke jidat saya. Ketika terasa perih saya gunakan tangan kanan, tapi tak tertahan. Akhirnya jidat saya begini," kata Wawan sambil menunjuk luka yang cukup panjang.

Lumuran darah yang mengganggu penglihatan Wawan dan Dahli serta membuat lantai licin, membuat pergumulan kian seru. Dalam satu kesempatan Wawan sukses membuat jatuh Yayan. Meski golok di tangan, tapi Wawan tidak menyerang. Suara kertibutan karuan membuat istri Wawan terbangun dan turut menyaksikan kejadian itu. Celakanya, Yayan bangkit dan berusaha menghantamkan kursi besi ke istri Wawan. Cepat Wawan bertindak. Kursi itu dihadang dengan punggungnya.

Setelah merasa kalah, Yayan kabur. Warga pun mulai berdatangan menolong, sebagian ada yang lapor polisi. Lokasi kejadian yang dekat dengan Mapolresta Banjar membuat polisi cepat bertindak. Tak lama berselang Yayan berhasil diciduk polisi di pinggiran jalan raya. Hingga kini belum diketahui motif Yayan nekat menyerang Wawan.

Sabtu, 05 November 2011

Penembak Riyadus Dijerat Pasal Pembunuhan

SURABAYA, (Tribunekompas)
Soewardi.


- Briptu Eko Riswanto, anggota Reserse Polres Sidoarjo, Jawa Timur, dijerat melanggar pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara karena melakukan penembakan yang menewaskan Riyadus Sholikin, sopir antar jemput karyawan PT Ecco yang juga guru ngaji, beberapa waktu lalu.

Temuan Tim Penyelesaian Kasus (TPK) dan Tim penyidik Subdit Pidana Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim menyimpulkan, Briptu Eko diduga dengan sengaja melakukan pembunuhan terhadap korbannya.

Polda Jatim juga memastikan Briptu Eko juga merekayasa ada celurit yang disebutnya milik korban Riyadus Sholikin. "Setelah dilakukan pengembangan, penyidik memastikan celurit hasil rekayasa Briptu Eko," kata Pjs Kabid Humas Polda Jatim, AKBP Elijas Hendrajana, Jumat 4 November 2011.

Terkait peristiwa itu, penyidik terus melakukan pendalaman dengan memeriksa sejumlah saksi. Polisi juga berkomitmen secepatnya menyelesaikan penyidikan kasus pembunuhan yang dilakukan Briptu Eko.

"Beberapa hari lagi berkasnya diharapkan selesai dan segera dikirim ke jaksa penuntut umum."

Diberitakan sebelumnya, peristiwa tragis itu berawal saat mobil korban, Riyadus Sholikin, dituding menyerempet pengendara sepeda motor yang juga anggota polisi, Briptu Widianto, di depan GOR Delta Sidoarjo yang berhadapan dengan kafe Ponti.

Sejumlah oknum polisi berpakaian preman kemudian melakukan pengejaran sambil melontarkan tembakan. Setelah Suzuki Carry milik korban berhenti karena ban kanan belakang tertembak, Briptu Eko kemudian mengarahkan tembakan ke lengan kanan korban, tembus dada mengenai jantung yang membuat korban tewas.

Kamis, 03 November 2011

Polisi Tangkap Pembunuh Montir Metromini

JAKARTA, (Tribunekompas)
By: Anto.


- Polisi menangkap tersangka pelaku pembunuh montir metromini, Antonius Paranginangin, 31 tahun. Sang pelaku, Abdi Paranginangin, 28 tahun, ditangkap Sabtu, 29 Oktober 2011, di rumah kakaknya di Minas, Simpang Perawang, Siak, Pekan Baru.

"Ia tertangkap setelah dalam pelarian selama 21 hari," kata Kepala Unit Reserse dan Kriminal Kepolisian Cakung, Ajun Komisaris Polisi, I Made Wisnu Wardhana, di kantornya, Rabu, 2 November 2011.

Made mengatakan, penangkapan dilakukan saat pelaku pulang berladang di kebun sawit pukul 17.00 WIB. Dalam penangkapan itu, pelaku tidak melawan. "Ia diciduk saat sedang beristirahat di saung, " ujarnya.

Menurut Made, motif pembunuhan didasari rasa cemburu yang melanda Abdi. Istrinya, Eva Maria Susanti, 35 tahun, didekati korban Antonius saat dirinya sedang bekerja.

Abdi kemudian merencanakan pembunuhan dengan membeli sebilah pisau di warung dekat rumahnya, di Perumahan Kompas Indah, Tambun, Bekasi. Pelaku memakai pisau karena melihat lawannya, Antonius, lebih besar. "Kalau dengan tangan kosong, dia takut kalah," ujarnya.

Dalam keterangannya ke polisi, Abdi mengaku menyesal. Pria yang dikenal pendiam dan baik ini tidak rela istrinya didekati kerabatnya sendiri. "Saya kalap," kata Made menirukan perkataan Abdi yang juga menjadi montir di tempat korban bekerja.

Pelaku dijerat Pasal 351 Ayat 3 tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang meninggal dunia. Ia terancam hukuman penjara selama 7 tahun. Saat ini, Abdi meringkuk di tahanan Kepolisian Cakung.

Sabtu, 8 Oktober 2011, Abdi menghujami perut Antonius dengan pisau. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Soemarno, Cakung, Jakarta Timur, di bengkel khusus metromini.